Bijak Dalam Menggunakan Dompet Digital

Transaksi keuangan digital mengalami peningkatan tren sejak Pandemi Covid-19. Data dari Bank Indonesia (BI) pada November 2022 menunjukkan nilai transaksi keuangan digital (e-money) naik 0,91% atau sebesar Rp 132,4 triliun.

Nilai transaksi tadi akan terus naik seiring inovasi teknologi digital dan kebutuhan masyarakat akan sistem layanan keuangan yang praktis. Disamping memberi kemudahan, penggunaan dompet digital ternyata juga punya risiko bagi pengguna. Untuk itu, perlu adanya literasi agar masyarakat tetap bijak dalam menggunakan dompet digital.  

Selain pemakaiannya yang mudah, penyedia layanan dompet digital seringkali menawarkan promo menarik seperti diskon dan cashback. Hal inilah yang menyebabkan pengeluaran jadi membengkak, bukannya hemat. Tak heran jika satu orang bisa memiliki lebih dari satu aplikasi dompet digital. Nah, agar transaksi menggunakan dompet digital lebih efektif,

berikut 3 langkah bijak dalam menggunakan dompet digital untuk aktivitas keuangan sehari-hari. 

Gunakan sesuai kebutuhan 

Kebutuhan penggunaan dompet digital tiap orang pasti berbeda. Ada yang menggunakan dompet digital hanya untuk transaksi belanja online. Ada juga yang menggunakan dompet digital untuk aktivitas rutin seperti pesan ojek online, dan bayar tagihan bulanan. Nah, jika penggunaan dompet digital sudah ditentukan, selanjutnya tinggal menyesuaikan saldo atau budget sesuai kebutuhan. Biar lebih mudah, Kita bisa loh menentukan anggaran dompet digital dalam sebulan. Dengan begitu, Kita bisa membatasi penggunaan dompet digital. Ingat ya, semakin besar budget untuk dompet digital, semakin besar pula keinginan Kita untuk beli sesuatu.    

Pilih satu dompet digital yang paling eksis 

Pada 2021, tercatat lebih dari 40 penyedia layanan dompet digital (e-wallet) yang terdaftar dan mendapat izin dari Bank Indonesia. Dari sekian banyak jumlah penyedia layanan dompet digital, OVO dan GoPay diklaim sebagai pemimpin pasar dengan jumlah pengguna terbanyak di Indonesia. Selain itu, beberapa dompet digital lain yang juga cukup populer diantaranya Dana, LinkAja, ShopeePay, dan Jenius. 

Sebelum menentukan pilihan, ada baiknya Kita mencari berbagai referensi, baik dari sisi tampilan aplikasi, fitur, program promosi, dan membaca review pengguna lainnya. Setelah itu, Kita bisa menentukan satu dompet digital yang akan dipakai untuk memenuhi semua kebutuhan transaksi digital. Punya lebih dari satu aplikasi dompet digital bisa jadi menyebabkan Kita impulsif dan susah mengontrol transaksi yang ujung-ujungnya menjadi boros. Dengan menentukan satu dompet digital, Kita terhindar dari kebiasaan top up berulang kali dalam sebulan. Keuntungannya, Kita bisa mengontrol batas pengeluaran di dompet digital selama satu bulan.  

Hindari Pay Later, terlalu beresiko!

“Belanja dulu, bayarnya nanti”. Sejenak slogan tadi terdengar menguntungkan Kita. Sayangnya, tak sedikit yang justru menjadikannya terlena hingga berujung pada masalah. Pertama, fasilitas Pay Later menciptakan ketergantungan yang menyebabkan Kita terbiasa telat untuk membayar tagihan dan susah mengatur keuangan. 

Masalah kedua penggunaan Pay Later adalah adanya bunga dan biaya tambahan. Ini bisa menjadi risiko utama yang akan dihadapi oleh pengguna. Besaran biaya administrasi fasilitas Pay Later sebesar 2-5%. Belum lagi jika ada keterlambatan pembayaran, pengguna juga akan dikenakan bunga cukup tinggi, dan melenceng dari prinsip ekonomi syariah. 

Itulah tadi 3 langkah bijak yang bisa Kita terapkan dalam menggunakan dompet digital agar transaksi berkah, dan terhindar dari masalah. Pada dasarnya, manusia yang menciptakan uang, bukan sebaliknya. Karena itu, perlu Kita pahami tentang penggunaan uang seefektif dan seefisien mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat serta mendatangkan keberkahan. 

Scroll to Top
×

Whatsapp

×