Fakta menarik di Balik Sejarah Bank Indonesia

Seperti Kita tahu, Bank Indonesia (BI) menjadi bank sentral negara. Dia berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pembangunan negara. Dibalik perjalanan panjang sejarah Bank Indonesia, ada cerita atau fakta menarik yang mungkin belum pernah Kita dengar sebelumnya. Apa saja fakta menarik di balik sejarah Bank Indonesia itu? Lanjutkan membaca sampai selesai.

Pada masa penjajahan Belanda, bank sentral di Indonesia dikenal dengan nama De Javasche Bank (DJB). Berdiri pada tahun 1828, DJB menjadi lembaga keuangan penting dalam sejarah keuangan di Indonesia. Pendirian DJB untuk menggantikan Bank Regerings, dan mengatasi trust issue pada mata uang di Hindia Belanda. DJB bertanggung jawab untuk menerbitkan mata uang, mengatur perbankan, dan mengelola keuangan pemerintah Hindia Belanda. 

Fakta menarik lain di balik Bank Indonesia muncul ketika pendudukan Jepang saat Perang Dunia II. Jepang mengambil alih DJB, lalu mengganti namanya menjadi Nederlands-Indische Syuupanhoo (NIS). Selama masa itu, Jepang memfungsikan DJB sebagai pendukung perang Jepang serta menerbitkan mata uang Jepang di wilayah Indonesia. Keberadaan NIS berakhir setelah Jepang menyerah pada akhir Perang Dunia II. 

Setelah sukses merebut kemerdekaan dari penjajahan Jepang pada tahun 1945, pemerintah Indonesia membubarkan NIS dan secara resmi mendirikan Bank Indonesia di tahun yang sama. Sayangnya, otoritas dan fungsi BI saat itu terbilang masih lemah. Sehingga di tahun 1949, pemerintah mengganti BI dengan Bank Negara Indonesia (BNI). Dia berfokus pada kebijakan moneter dan perbankan.

Tahun 1953, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, meminta untuk mengaktifkan lagi Bank Indonesia. Namun, saat itu dia menghadapi masalah keterbatasan dana. Untuk mengumpulkan modal, Soekarno meminta masyarakat Indonesia agar menyumbangkan perhiasan mereka kepada BI. Hal ini kemudian dikenal dengan “Gerakan Nasional Sumbangan Emas”.

Fakta menariknya, masyarakat Indonesia memberikan sambutan luar biasa untuk gerakan sumbangan emas pada waktu itu. Dengan sukarela mereka memberikan emas sebagai bentuk dukungan untuk menghidupkan kembali BI sebagai bank sentral negara.

Sejak saat itu, Bank Indonesia mengalami perkembangan serta peningkatan peran dalam mengatur kebijakan moneter, mengawasi perbankan, dan menjaga stabilitas ekonomi negara. Pada tahun 1959, BI kembali mendapatkan kedudukan sebagai bank sentral yang independen. Tujuan utama BI adalah untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada tahun 1968, UU No. 13/1968 tentang Bank Indonesia diberlakukan, yang memberikan landasan hukum yang kuat bagi bank sentral. BI menjadi institusi yang lebih mandiri dan memiliki wewenang untuk mengatur dan mengawasi sistem perbankan di Indonesia. Selama krisis ekonomi pada akhir tahun 1990-an, BI berperan aktif dalam memulihkan kestabilan ekonomi nasional. 

Di tahun 2004, BI mendapatkan otonomi kebijakan moneter penuh. Otonomi itu memberikannya kewenangan lebih besar untuk mengatur suku bunga, dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sejak saat itu, Bank Indonesia terus memperkuat peran dan fungsinya sebagai bank sentral yang independen.

Itulah tadi beberapa fakta menarik di balik perjalanan panjang sejarah berdirinya Bank Indonesia. Fakta tersebut menunjukkan perjuangan besar untuk membangun lembaga keuangan yang kuat dan mampu menjalankan tugasnya sebagai bank sentral negara. Hingga saat ini, BI terus berupaya dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. 

Scroll to Top
×

Whatsapp

×