Fenomena belanja online menggunakan opsi “pay later” atau “bayar nanti” belakangan menjadi semakin populer. Mengapa masyarakat Indonesia begitu tertarik menggunakan pay later untuk belanja online? Artikel ini akan mengulas fenomena yang menjelaskan tingginya minat warga Indonesia dalam berbelanja online pakai fitur pay later.

Belanja dulu, bayarnya nanti! Kamu pasti pernah atau bahkan sering mendengar tagline iklan tadi kan? Kita kemudian menyebutnya dengan istilah pay later. Sederhananya, pay later merupakan sistem pembayaran yang tertunda. Jadi, pelanggan bisa membeli barang dulu, dan pembayarannya dilakukan nanti sesuai waktu yang ditentukan. Karena sifatnya hutang cicilan, tentu saja akan ada bunga atau biaya tambahan. 

Pengguna pay later di Indonesia naik signifikan sejalan dengan pertumbuhan platform e-commerce. Riset terbaru Kredivo bersama Katadata Insight Center (KIC) mencatat 39,9% pengguna pay later menggunakan layanan tersebut lebih dari satu kali dalam sebulan. Angkanya naik dari tahun 2022 sebesar 38%, dan di tahun 2021 hanya 28%. 

Inovasi Pay Later Mudahkan Pelanggan

Sebagai layanan keuangan digital, pay later menawarkan manfaat bagi pelanggan, yaitu:

  • Efisiensi pembayaran
    Pay later menawarkan sistem pembayaran digital yang prosesnya mudah dan cepat tanpa uang cash atau punya kartu kredit. Dia bisa menjadi solusi bagi pelanggan yang butuh produk/layanan dengan cepat namun terkendala dengan persoalan uang. Jadi, pelanggan bisa menentukan jangka waktu cicilan pembayaran sesuai dengan kemampuan finansial.
  • Jaminan keamanan
    Dengan sistem pay later, pengguna tidak perlu membawa uang tunai atau kartu kredit saat membeli produk atau layanan. Hal ini mengurangi resiko kehilangan atau pencurian uang tunai dan kartu kredit. Meski begitu, celah fraud bisa saja terjadi melalui pencurian data pribadi secara online oleh oknum tertentu. 

Ada beberapa alasan mengapa pelanggan suka menggunakan pay later saat berbelanja online. Alasan terbanyak karena adanya kebutuhan mendesak (58%), tawaran cicilan kurang dari setahun (52%), dan tawaran promo menarik lebih banyak (45%). Penetrasi pengguna kartu kredit yang rendah menjadi faktor naiknya pengguna pay later. Layanan pay later juga menjadi solusi mudah bagi Gen Z yang tidak memiliki kartu kredit. 

Layanan pay later kebanyakan terintegrasi dengan e-commerce, toko online, agen travel online, dan platform lain. Pengguna pay later dari kalangan Milenial dan Gen Z banyak yang menggunakan pay later untuk membeli produk smartphone, fashion, barang elektronik, dan pulsa. 

Meski terlihat simple dan mudah, penggunaan pay later bisa menyebabkan seseorang justru ‘kecanduan’. Mereka yang kecanduan belanja menggunakan pay later akan mengalami masalah keuangan serius. Beberapa kasus jika pengguna tidak bijak menggunakan pay later seperti perilaku konsumtif, total utang tak terkendali ditambah beban bunga tinggi, stress berkepanjangan, dan penyitaan aset atau barang yang dibeli, bahkan bisa berurusan dengan tuntutan hukum. 

Penting untuk diingat bahwa fenomena belanja online menggunakan opsi “pay later” memiliki potensi manfaat dan risiko. Sehingga, pengguna harus punya pertimbangan bijak dan komitmen kuat. Pelanggan perlu memahami konsekuensi potensial penyalahgunaan pay later sehingga mereka akan selalu mengelola keuangan dengan cermat. Seperti membuat anggaran, memprioritaskan pembayaran tagihan, dan hanya menggunakan opsi “pay later” jika mereka yakin bisa membayar tagihan sesuai waktu yang ditentukan.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Dominasi Startup di Indonesia

Sepuluh tahun terakhir ini, ekosistem startup menunjukkan pertumbuhan signifikan. Di tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat lima dunia, dengan…