Digital Tech Bisa Lejitkan Bisnis Koperasi Syariah Yang Mati Suri. Baca Dulu Strateginya!

Di artikel sebelumnya berjudul, Koperasi syariah di tempatmu lagi stagnan? pasti ini penyebabnya!, dijelaskan bahwa salah satu faktor penyebab koperasi stagnan adalah karena masih mempertahankan cara lama yang masih manual, tidak memanfaatkan teknologi digital. Sementara mereka yang lebih dulu melek teknologi dan menangkap peluang justru bisa meraup keuntungan karena pertumbuhan bisnis membaik. 

Teknologi digital nyatanya bisa melejitkan bisnis koperasi syariah yang lama tidak berkembang alias mati suri. Tapi jangan keliru, transformasi digital bukan sekedar yang penting sudah punya aplikasi digital. Strategi pengembangan aplikasi koperasi digital pun gak bisa asal buat dan jadi. Kita perlu mempertimbangkan beberapa hal strategis agar hasilnya bisa maksimal. Apa saja tipsnya? Simak ulasan berikut.

Aplikasi berbasis pengguna

Pernah dengar istilah customer centric principle? Penjelasannya seperti apa sih? Pada dasarnya customer sentris itu bicara soal bagaimana perusahaan menyesuaikan produk/jasa mereka agar sejalan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Pendeknya, pelaku bisnis berlomba menciptakan produk/layanan yang bisa diterima di hati masyarakat. 

Nah, customer centric erat kaitannya dengan strategi pengembangan bisnis yang awalnya hanya terfokus pada produk itu sendiri, belakangan bergeser ke arah konsumen atau user. Konsumen masa kini cenderung menyukai produk yang memberikan kesan dan pengalaman personal.

Pertanyaannya sekarang, mengembangkan koperasi digital berbasis syariah itu gampang atau sulit? Jawabannya ya gampang-gampang susah. Susahnya itu aplikasi koperasi Kita harus bisa menghadirkan pengalaman berkesan agar user tetap setia dan aktif menggunakan semua fitur, bukan malah baru download langsung uninstall aplikasinya.

Step paling awal, Kita perlu mengidentifikasi kebutuhan dan perilaku pengguna terhadap aplikasi koperasi digital. Hasil identifikasi itu nantinya akan diekstrak menjadi data atau wawasan yang berguna untuk menentukan model bisnis, strategi pengembangan produk, persoalan yang mereka hadapi sekaligus cara pendekatan ke user. Untuk memahami pelanggan, salah satu teknik yang dipakai bisa dengan KYC (Know Your Customer), yaitu metrik untuk menilai tingkat loyalitas pelanggan terhadap produk. Caranya bisa dengan interview, diskusi grup, profiling customer sesuai segmentasi. Kalau mau canggih ya pakai teknologi seperti machine learning (ML) atau AI yang mampu memprediksi perilaku customer di masa mendatang.

Buat aplikasi sendiri atau cari partner

Digitalisasi adalah keniscayaan yang berlaku bagi perorangan dan organisasi atau perusahaan. Pertanyaan sekarang, untuk mendigitalisasi koperasi syariah, apakah harus membangun sendiri sistem aplikasinya atau bisa membelinya dari IT vendor? Kira-kira mana yang lebih cocok untuk koperasi dan lembaga mikro keuangan syariah Anda? 

Digitalisasi koperasi syariah faktanya butuh investasi dan perencanaan. Baik Anda mau mengembangkan software sendiri (in house), ataupun membeli (subscription) pihak luar, keduanya tentu didasarkan atas beberapa pertimbangan. Tujuannya agar pengembangan aplikasi berjalan efektif, tepat guna, dan bisa menekan biaya kerugian akibat prosesnya terhambat. 

Ada dua poin yang perlu diperhatikan jika mau mengembangkan software koperasi digital sendiri. Pertama, adanya tim support khusus untuk pengembangan aplikasi sekaligus proses maintenance jika sewaktu-waktu terjadi persoalan teknis (bug). Keberadaan tim support teknis ini akan selalu dibutuhkan sepanjang aplikasi tadi tetap berjalan, alias koperasi syariah masih menggunakannya. Poin kedua, masih ada kaitannya dengan sebelumnya, yaitu biaya anggaran cukup besar. Koperasi syariah perlu membuat anggaran untuk pengadaan infrastruktur, pengamanan data, dan tim support yang terus menerus. 

Selain develop sendiri, opsi lain Kita bisa membeli dari eksternal. Tentunya, masing-masing pilihan punya plus minus sendiri. Keuntungan jika koperasi syariah kita membeli/ berlangganan aplikasi dari eksternal adalah bisa mendapatkan layanan lebih cepat, dan praktis. Sistem koperasi digital di pasaran punya beberapa tipenya.

Ada yang berbasis SaaS seperti Microbank Unicoop, ada juga berbasis on-premise. Enaknya aplikasi koperasi digital berbasis SaaS atau cloud itu gak perlu proses instalasi, cukup pakai browser dan koneksi internet. Pihak koperasi pun tidak perlu tim support karena sudah disediakan oleh penyedia layanan koperasi digital.

Saatnya menentukan model bisnis yang tepat sasaran

Ada banyak ide pengembangan bisnis berbasis digital yang bisa diterapkan oleh koperasi syariah. Tugas Anda itu menganalisis sekaligus menentukan model bisnis yang lebih pas untuk diadopsi dalam koperasi syariah atau lembaga keuangan mikro syariah.

Untuk menentukan model bisnis yang tepat, Anda bisa mereview bareng tim solid. Bicara soal tim, perlu dipastikan masing-masing anggota tim punya visi misi dan digital mindset yang sama. Untuk mengukur apakah model bisnis yang dipilih tadi sudah sesuai atau belum, kita bisa ajukan 4 pertanyaan penting ini:

  1. WHO: Siapa target konsumennya? Seperti apa karakternya? Dan apa yang mereka butuhkan?
  2. WHAT: produk/ layanan seperti apa yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen Anda?
  3. HOW: Bagaimana cara produk/ layanan diberikan kepada konsumen?
  4. WHY: Mengapa model bisnis yang dipakai ini bisa menguntungkan? 

Itulah tiga pertimbangan penting yang perlu diperhatikan sebelum koperasi syariah atau lembaga mikro keuangan syariah lain mengembangankan sistem aplikasi sebagai salah satu strategi digitalisasi bisnis.

Scroll to Top
×

Whatsapp

×