Kehebatan Teknologi Machine Learning Percepat Inklusi Keuangan

Kehadiran pemain baru seperti fintech yang fokus pada layanan simpan pinjam atau P2P Lending menjadi solusi alternatif inklusi keuangan negara. Di 2018, tercatat sebanyak Rp 15.9 triliun total dana pinjaman tersalurkan dari seluruh platform P2P Lending yang terdaftar dan diawasi OJK. Mereka memberikan layanan digital kepada masyarakat yang selama ini tidak tersentuh akses perbankan karena persoalan geografis, administrasi, biaya admin dan lainnya. Di satu sisi, ini termasuk kabar baik bagi pemerintah, karena pertumbuhan dan pemerataan ekonomi hingga ke pelosok. Namun di sisi lain, keberadaan bank dan lembaga keuangan lain yang lebih dulu eksis terancam tutup karena ditinggal nasabah.

Alasan kedua mengapa bank syariah perlu go digital, karena kehebatan teknologi masa depan mampu mendobrak hambatan fisik dan persoalan yang selama ini dialami oleh bank dan konsumen. Alasan kedua ini ada kaitannya dengan tujuan inklusi keuangan. Teknologi memungkinkan bank memberikan layanan keuangan lebih murah, simple, cepat, aman, dan menjangkau masyarakat kapanpun dan dimanapun mereka berada. Sehingga warga pelosok bisa menikmati berbagai layanan keuangan sama mudahnya dengan mereka yang tinggal di area perkotaan.

Bicara soal teknologi, Data science dan machine learning (AI), termasuk salah satu bagian teknologi canggih yang dipakai dalam industri perbankan. Bank syariah bisa mempelajari serta melakukan analisa informasi pelanggan untuk mengukur preferensi mereka yang sejalan dengan prinsip syariah. Sehingga nantinya akan berdampak pada inovasi pengembangan produk / layanan bank syariah.

Sementara teknologi AI mempermudah bank dalam menganalisa risiko kredit jauh lebih baik berdasarkan kumpulan data.

Merangkum laman DQLab, algoritma Machine Learning memiliki 3 kemampuan hebat untuk:

  • Mendeteksi kecurangan / penipuan secara real time yang bisa menyebabkan bank merugi
  • Menghadirkan layanan pelanggan non stop bagi pelanggan lewat sistem chatbot
  • Melakukan segmentasi pelanggan untuk meningkatkan revenue. Jadi budget pemasaran lebih efisien, dan strategi pemasarannya tepat sasaran.

Teknologi AI akan mempengaruhi model bisnis perbankan syariah dan menciptakan potensi besar. Artinya, teknologi kecerdasan buatan meningkatkan nilai bisnis bank syariah. Ini sejalan dengan tujuan penciptaan teknologi AI, yaitu untuk memahami perilaku manusia sekaligus membuat hidup mereka lebih mudah. Kemampuan membaca pola perilaku nasabah yang begitu banyak akan menjadikan layanan / produk bank syariah lebih revolusioner dan cepat beradaptasi dengan perubahan trend atau kebutuhan pasar.

Sekali lagi, digitalisasi pada akhirnya merupakan keniscayaan yang jadi kebutuhan primer bisnis, tak terkecuali sektor perbankan syariah. Transformasi digital memungkinkan pengembangan produk / layanan perbankan syariah yang fokus pada pelanggan alias customer-centric. Di lain sisi, bank syariah bisa mengembangkan proposisi atau diferensiasinya untuk menggaet lebih banyak pelanggan, dan menciptakan peluang bisnis baru yang sejalan dengan prinsip syariah.

Scroll to Top
×

Whatsapp

×